Salam Pembuka
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Selamat datang di Blog Pulang Kandang yang kami dedikasikan untuk seluruh alumni Fapet UNPAD dari semua angkatan. Meskipun blog ini tak resmi (unofficial) tapi mudah-mudahan menjadi sarana silaturahmi antara kita.
Kami tunggu kontribusi Akang/Euceu sekalian, baik berupa komentar, saran dan artikel.
Terimakasih. (Admin)
Subscribe

RSS Feed

02 Desember 2009

Menemukan Website ISMAPETI

Meskipun saya (admin) belum pernah menjadi pejabat di ISMAPETI,tetapi terasa haru dan bangga juga dapat menemukan website induk organsisasi mahasiswa peternakan di level nasional ini.

Sebagai mantan mahasiswa fakultas peternakan, saya tentu minimal pernah mendengar nama ISMAPETI, dan tetap mengingatnya sampai sekarang. Pagi ini saya mengunjungi website ini, setelah melakukan pencarian di Google. Sayang website ini kurang up to date, agak-agak senasib dengan blog ini (hehe...) Mungkin sang administator terlalu sibuk dengan agenda kuliah atau mengurusi kegiatan internal.

Semasa berkiprah di dunia kemahasiswaan fakultas peternakan dulu, saya belum pernah terlibat langsung dalam penyelenggaraan event-eventnya, kecuali menjadi 'pengunjung acara' semacam Lomba Tilik Ternak, Temu Ilmiah dlsb. Puncaknya saya sempat menghadiri Temu Nasional ISMAPETI di Kupang NTT, sebagai ketua tim dari Fapet UNPAD. Kesan saya, kegiatan induk organisasi mahasiswa fakultas peternakan ini sangat positif, meskipun di ranah organisasi saya merasa nuansa elitis yang terlalu kental. Itu dulu, tentu saja...

Semoga ISMAPETI semakin jaya, dan ikut berjuang dalam membangun SDM dunia peternakan yang berkualitas. Syukur kalau sudah bermetamorfosis menjadi partner institusi pendidikan kita yang diperhitungkan. Semoga saja.

Btw, saya sendiri tidak tahu perkembangannya saat ini seperti apa. Didalam websitenya tidak banyak info yang bisa kita jumpai. Entah susunan organisasi, event yang sudah, sedang dan akan dikerjakan, dan statement dari para pejabatnya. Maybe, there's another site available? Probably...

read more...

Ironi Susu Sapi

Riani Susanto, dokter naturopati, enggan memberikan anaknya susu sapi hasil perahan industri. Menurut dia, selama cukup mengkonsumsi makanan sehat dan berkualitas, orang akan tetap sehat. Dia memandang susu bukan sebagai makanan pokok. Ia lebih memilih memberi keluarganya susu organik.

Pasalnya, dia melihat ketidakwajaran dalam proses industri sapi perahan. Menurut Riani, proses pemerahan susu sapi dari industri itu dipaksakan. Alaminya, kalau sapi--seperti juga manusia--melahirkan dahulu, baru mengeluarkan susu. Tapi demi mengejar target, sapi disuntik hormon tertentu agar bisa menghasilkan susu. Otomatis susu mengandung hormon. "Apalagi sapi juga diberi antibiotik untuk mencegah infeksi," ujar Rani.

Nah, pengaruh hormon dan antibiotik itu pasti dosisnya besar dan tidak cocok untuk manusia. Karena itu, kata dia, banyak penyakit aneh timbul. Berdasarkan sejumlah studi luar negeri, disebutkannya, penyakit aneh itu seperti perempuan yang berjakun. "Ada pula wanita usia 10-11 tahun suaranya berubah seperti laki-laki," ia bercerita.

Susu yang baik, menurut Riani, tidak mengandung hormon, antibiotik, dan rekayasa genetika. Dan juga tanpa tambahan perasa serta pemanis buatan. Sedangkan pada susu industri banyak ditambahkan segala macam tambahan, seperti vitamin dan DHA. "Tambahan hanya mempunyai nilai jual," kata dokter naturopati lulusan dari Negeri Abang Sam ini.

Tak aneh jika sejumlah orang mulai menggeser susu sapi dari menu makanannya. Mereka bersikap apatis terhadap kualitas susu hasil perahan dari sapi yang juga diduga makan makanan selain rumput.

Memang, kata Hendro Horijogi Poejono, Direktur Human Resources and Corporate Affair PT Frisian Flag Indonesia, sapi di Indonesia tak seperti di Belanda, yang dilepas di padang rumput. Di Indonesia, kebanyakan sapi dikandangkan karena kurangnya area. "Sehingga cuma mendapatkan rumput secukupnya dari sekelilingnya," kata Hendro di Surabaya beberapa waktu lalu.

Masalahnya, saat musim kemarau sapi tidak mendapat rumput sebagaimana mestinya. Akhirnya, karena kurangnya ketersediaan lahan, banyak sapi makan palet--makanan khusus untuk hewan yang terbuat dari terigu.

Menurut Hendro, sapi Jawa Timur lebih beruntung, karena banyak perkebunan seperti cokelat. "Ampasnya bisa untuk campuran pakan," Hendro melanjutkan. Kalau di Jawa Tengah dan Jawa Barat, banyak sapi makan palet. Namun demikian, dia tidak melihat sapi Indonesia makan makanan berbahan kimia. "Apalagi disuntik hormon," dia menegaskan.

Makanan sapi memang mempengaruhi kualitas susu. Tengoklah studi Persatuan Ahli Gizi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Menurut Ketua Persatuan Ahli Gizi Jawa Timur Andryanto, MKes, studi itu menunjukkan bahwa air dan tanah di Ponorogo yang rendah yodium mempengaruhi kualitas susu dan daging sapi di sana.

Namun, Persatuan Ahli Gizi belum meneliti sapi yang diberi makanan berbahan kimia dan suntikan hormon. Yang jelas, kata Andryanto, apa pun yang dimakan sapi, susunya sudah berproses sedemikian rupa. Dianalogikan, seorang ibu yang makan sambal tapi air susu ibu (ASI)-nya tidak berasa pedas. "Apakah bisa disamakan dengan sapi, bisa saja iya," ujarnya.

Sebuah studi yang dilansir situs Toronto Vegetarian Association pada 2005 menemukan bahwa ada sesuatu dalam susu yang dapat menyebabkan reaksi imunitas yang merusak produksi sel insulin pada anak diabetes. Studi itu juga melihat bahwa bayi yang diberi ASI dan tidak diberi susu sapi memiliki perlindungan terhadap diabetes.

Studi pada 2003 yang melibatkan 4.701 sampel usia 10-16 tahun dari 11 negara Eropa itu menyimpulkan, menghindari susu sapi diindikasikan bisa menunda atau mencegah diabetes pada individu yang rentan. Lebih jauh ditemukan, susu sapi dan konsumsi produk hewan terkait dengan tingkat risiko lebih tinggi pada diabetes tipe 1.

Profesor Hiromi Shinya, dari Surgery at Albert Einstein College of Medicine, New York, berpendapat lebih ekstrem lagi. Dalam bukunya, The Miracle of Enzyme, ia mengatakan susu adalah makanan paling buruk buat manusia. "Mana ada anak sapi minum susu manusia," ujarnya.

Hiromi beralasan susu itu mengganggu fungsi enzim di dalam tubuh dan membuat tugas usus semakin berat. Tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan enzim induk yang seharusnya dihemat. Nah, enzim induk ini untuk pertumbuhan, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk banyak dipakai membantu mencerna susu, peminum susu, menurut dia, lebih berisiko terkena osteoporosis.

Sementara itu, ahli gizi dan pangan Institut Pertanian Bogor, Profesor Dr Ir Hardinsyah, mengatakan orang yang terlalu banyak makan protein hewani, termasuk susu sapi, memang bisa meningkatkan pembuangan kalsium atau terjadi pemborosan kalsium dalam tubuhnya. Jadi banyak makan makanan hewani membuat tubuh berisiko kekurangan kalsium.

Tapi, menurut Hardinsyah, hal itu berlaku bagi penduduk yang banyak mengkonsumsi pangan hewani. Sedangkan umumnya penduduk Indonesia, menurut dia, masih kekurangan kalsium dan makanan hewani. "Jadi aman saja minum susu."

HERU TRIYONO
source: TempoInteraktif
read more...

20 Juni 2009

Karena Susu, Brussel Lumpuh Total

Admin mengutipkan berita dari detik.com untuk rekan-rekan alumni fakultas peternakan UNPAD khususnya, dan seluruh pemerhati dunia peternakan umumnya. Sebuah berita yang semoga me-refresh ingatan kita akan dahsyatnya potensi dunia peternakan. Berita ini semoga menyadarkan pula bahwa ada yang salah dengan kondisi dunia peternakan kita saat ini. Mencapai kemajuan di subsektor ini nampaknya masih utopia untuk sekarang ini. Benarkah?

Brussel - Ribuan peternak sapi perah dari Belgia, Belanda, Jerman, dan Perancis memblokade kota dengan ribuan traktor. Jantung ibukota Uni Eropa (UE) dan Belgia sepanjang Kamis hingga Jumat (19/6/2009) lumpuh total.

Detikcom yang hendak makan siang di resto seafood Chez Leon, Grand Place, terpaksa harus muter-muter melalui jalan tikus, sehingga perjalanan yang biasanya cuma 10 menit menjadi lebih dari 1 jam.

Aksi turun ke jalan itu untuk meminta perhatian UE agar harga susu sapi dinaikkan menjadi EUR 0,40 per liter di tingkat peternak. Harga saat ini yang cuma EUR 0,20 per liter dinilai sangat tidak fair.

"Kami telah melakukan aksi sejak berbulan-bulan, namun tak pernah didengarkan dan tak pernah mendapat perhatian dari pers. Jika tuntutan kami tetap tidak dikabulkan, maka sebagian besar dari kami akan berhenti sebagai perternak sapi perah," kata Frans-Josef Kemnade dari Jerman.

Sekadar tahu, di Belanda harga susu segar di top supermarket Albert Heijn cuma EUR 0,46 cent kemasan 0,5 liter, jauh lebih murah dari air minum merk Spa yang harganya EUR 0,69 per 0,5 liter. Artinya minum susu jauh lebih murah daripada minum air kemasan.

Keterangan polisi federal yang dipantau detikcom dari media setempat menyebutkan bahwa sekitar 2000 peternak dari keempat negara itu mau merangsek ke gedung Dewan Uni Eropa, di mana mereka dari 27 negara anggota bersidang. Di sekitar gedung ini juga terdapat gedung lembaga-lembaga UE lainnya.

Namun mereka gagal membawa ribuan traktor mendekati sasaran, sebab sejumlah besar polisi sudah dikerahkan untuk menghambat demonstrasi besar-besaran itu, antara lain dengan memasang barikade kawat berduri.

Ribuan peternak itu akhirnya melanjutkan perjalanan menuju sasaran dengan berjalan kaki. Sebagian melampiaskan kemarahan dengan membakar jerami. Sementara ribuan pengguna jalan lainnya menderita dalam perjalanan.
(es/es)
read more...

18 Juni 2009

Ternak Kambing Akrabkan Islam-Hindu di Bali

Angin berembus tidak begitu kencang di bawah pohon kopi daerah pegunungan Busungbiu, perbatasan antara Kabupaten Buleleng dan Tabanan, menambah keakraban tiga-empat petani yang beristirahat setelah menikmati santap siang.

Mereka beristirahat setelah membersihkan sela-sela tanaman kopi, berdiskusi kecil untuk bersama-sama mencari alternatif meningkatkan pendapatan, di tengah kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, yakni semakin "meroketnya" harga-harga kebutuhan bahan pokok.

Petani dalam satu kelompok diskusi kecil yang berbeda latarbelakang agama dan kepercayaan, yakni Islam dan Hindu itu mengadakan dialog secara terbuka untuk pengembangan ternak kambing, sebagai alternatif meningkatkan pendapatan.

Keinginan petani kopi di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, 110 km barat laut Denpasar untuk mengembangkan ternak kambing mendapat respon positif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali dan Dinas Peternakan setempat, tutur Ketua MUI Bali Haji Ahmad Hasan Ali (75).

Pria kelahiran Palembang, 19 Pebruari 1993 yang telah menetap di Bali hampir selama setengah abad itu merespon keinginan petani kopi untuk mengembangkan ternak kambing, karena usaha tersebut mempunyai prospek cerah.

Selain meningkatkan kesejahteraan petani, juga akan mampu menyediakan matadagangan kambing dalam jumlah yang memadai yang selama ini selalu didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur maupun Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha bagi umat Muslim setempat.

Ir Suprio Guntoro dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, segera melakukan penelitian terhadap kemungkinan pengembangan ternak kambing di sejumlah desa-desa di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Penelitian yang dilakukan tahun 2004 itu menunjukkan, lahan di bawah tanaman kopi sangat baik untuk pengembangan ternak kambing yang sanggup meningkatkan pendapatan petani dua kali lipat setiap tahunnya, dibandingkan hanya membudidayakan kopi.

Melihat hasil penelitian tersebut, MUI Bali dengan dukungan Dinas Peternakan setempat langsung menggandeng Yayasan Sahabat Bali untuk membantu bibit ternak kambing guna dikembangkan masyarakat tani di bawah pohon kopi.

"Keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-kopi dirintis sejak awal 2005 yang ternyata telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, di samping lebih meningkatkan keakraban umat Islam-Hindu di Bali," tutur pensiunan pegawai Bimas Islam Kanwil Departemen Agama Propinsi Bali itu.

Suami dari Hj Ni Massalma yang tampak sehat bugar di usia senjanya itu, mengaku telah beberapa kali melihat dari dekat usaha peternakan kambing di bawah pohon kopi yang ditekuni ribuan petani Desa Sepang, Tista dan desa Sekitar Kecamatan Busungbiu.

Keterpaduan pemeliharaan kambing dan tanaman kopi yang dirintis petani Busungbiu sejalan dengan upaya MUI Bali mengembangkan dialog dan memantapkan kerjasama lintas agama, sebagai upaya memantapkan kerukunan yang selama ini mesra dan harmonis, hidup berdampingan satu sama lainnya.

Agama Islam masuk wilayah Kabupaten Buleleng, bekas pusat ibukota Sunda Kecil yang wilayahnya meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, pada tahun 1587 dibawa oleh tiga orang umat Islam dari Jawa yang menjadi pengantar gajah hadiah Dalem Solo.

Pusat Islam tertua di Bali utara menurut Ketut Ginarsa dan Suparman Hs yang ikut menyusun buku sejarah masuknya agama Islam ke Bali, adalah Banjar Jawa yang kemudian menyebar ke daerah sekitarnya antara lain Pegayaman.

Berlipat Ganda

Ir Suprio Guntoro yang telah melakukan penelitian dan pengkajian terhadap keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-tanaman kopi di Kecamatan Busungbiu mengatakan, selain meningkatkan keabraban petani juga mampu meningkatkan pendapatan berlipat ganda.

Petani yang memelihara satu hektar tanaman kopi, awalnya hanya berpenghasilan Rp10 juta per tahun. Namun dengan memelihara sepuluh hingga 12 kambing induk pendapatannya bertambah menjadi Rp21 juta setiap tahunnya atau dua kali lipat.

Petani desa untuk meraup penghasilan yang lumayan besar itu tidak perlu susah-susah mencari hijauan pakan ternak untuk kambing piaraannya. Rumput yang tumbuh dan daun dadap sebagai tanaman peneduh menjadi makanan kambing sehari-hari.

Kambing induk yang dipelihara itu setiap dua tahun mempunyai tiga anak, sehingga 12 ekor induk setiap tahun akan beranak 18 ekor. Setelah dipelihara delapan-sembilan bulan, laku seharga Rp 1 juta/per ekor.

Kambing jenis peranakan ettawa (unggul) itu selain dagingnya gurih juga menghasilkan susu yang dapat memberikan nilai lebih.

Dampak positif lainnya yang dapat dinikmati petani, adalah kemudahan tidak membeli pupuk untuk menyuburkan tanaman kopi, karena bisa memanfaatkan kotoran maupun air kencing kambing ternak piaraan.

Pemupukan lahan kopi seluas satu hektar, petani perlu pemeliharaan ternak kambing 10 hingga 12 ekor. Hal itu sudah dilakukan petani kopi di Desa Sepang dan Desa Tista. "Berkat keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-tanaman kopi, sekaligus mampu meningkatkan populasi kambing di Bali," tutur Guntoro.

Populasi kambing di Bali tercatat 100.000 ekor, dinilai masih kurang, mengingat untuk memenuhi kebutuhan masih didatangkan dari daerah tetangga Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Pengembangan ternak kambing menurut Kepala Dinas Peternakan Propinsi Bali Ir Ida Bagus Ketut Alit, hanya dilakukan di daerah-daerah tertentu, berbeda halnya dengan pemeliharaan babi dan sapi yang hampir merata di pelosok pedesaan Bali.

Ke depan pengembangan ternak kambing perlu lebih diintensifkan minimal mampu memenuhi kebutuhan lokal maupun persediaan matadagangan antarpulau.

Program keterpaduan itu kini dikembangkan dengan sasaran lebih luas yakni pengembangan ternak sapi, kambing dengan seluruh komoditi pertanian maupun perkebunan, sebagai upaya mewujudkan pembangunan pertanian ramah lingkungan.

Untuk menyuburkan lahan petani tidak lagi tergantung pada pupuk urea, namun bisa memanfaatkan limbah kotoran dari ternak serta menggunakan pembasmi hama secara alami, ujar Guntoto. (ANT)

JY
read more...

Kandang's Time

Sedang Ngandang

Simpul
gabung milis ALUMNI_FAPET_UNPAD Rambouillet98
fapet92 free counters